“Prestasi” Selama Belajar di Pesantren

www.reference.com
www.reference.com

Setiap manusia pasti menginginkan dirinya untuk menjadi seorang yang berprestasi, bisa menjadi orang yang mempunyai kelebihan yang dapat diunggulkan kepada yang lainnya. Adapun prestasi adalah sebuah pencapaian dari usaha seorang manusia yang ingin melebihi dari usaha orang lain.

Dengan menjadi diri yang berprestasi maka akan banyak orang yang mengakui keberadaan kita, teman, sahabat, tetangga, kekasih, apalagi orang tua yang sudah pasti akan bangga terhadap anaknya yang memiliki segudang prestasi di kehidupannya.

Seringkali prestasi di sandarkan kepada sebuah piala penghargaan,  piagam yang terbuat dari emas, atau berupa sertifikat, namun dalam artian umumnya prestasi adalah sebuah hasil kerja nyata, diakui oleh kebanyakan orang meskipun itu tidak menjadikannya memiliki segudang Piala penghargaan.

Begitupun saya, sebagai seorang manusia, ketika dahulu mesantren selama 3 tahun di Miftahul Huda 2 bayasari sangatlah ingin memiliki sebuah atau dua buah prestasi berupa piala penghargaan.

Namun setelah lama berusaha, menjadi santri yang rajin mengaji, tidak pernah mengantuk atau menoleh serta selalu memperhatikan ketika pengajian tetap saja prestasi yang di inginkan itu tidak kunjung didapatkan.

Akhirnnya  saya sadar bahwasanya prestasi itu acuannya bukanlah sebuah piala penghargaan semata, akan tetapi menjadi seorang sahabat yang baik pun itu juga prestasi, menjadi diri sendiripun itu sebuah prestasi, dan menjadi apa yang kamu mau pun itu sebuah prestasi tentunya.

Sebenarnya saya termasuk anak santri yang sangat ber prestasi, namun itu tadi, prestasi ini tidaklah mendapatkan penghargaan berupa piala yang berwarna kekuning kuningan itu, prestasi ini sangatlah di jauhi bahkan di benci oleh kebanyakan santri.

Berikut beberapa prestasi yang membanggakan bagi saya, namun bagi kamu mungkin tidak selama kurun waktu 3 tahun mondok di Ponpes Miftahul Huda 2 bayasari.

D.P.O.

www.outajamaica.com
www.outajamaica.com

Ada yang pernah mendengar istilah ini? ya, istilah ini sering terdengar di layar kaca televisi anda ketika terdapat sekelompok teroris yang berhasil melarikan diri, dan akhirnya para polisi yang kegerahan akan tingkah laku mereka segera mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang atau D.P.O.

Nah di Miftahul Huda 2 ini terdapat juga sebutan seperti itu pada zaman saya dulu mengaji, sebelumnya tidak ada istilah tersebut namun dikarenakan Lahirnya Sebuah Peradaban Baru yang mana peradaban ini terdiri dari para teroris, yang sering mengakali sistem keamanan di Pesantren ini.

Oleh karena hal itu dibentuklah sebuah badan khusus untuk menanggulangi hal- hal yang tidak diinginkan akibat tingkah laku dari  mereka, salah satu caranya dengan membuat sebuah daftar tersebut.

Saya cukup bangga menjadi salah satu dari puluhan orang yang sama- sama masuk dalam daftar tersebut, karena dengan menjadi seorang D.P.O  nama saya akan selalu disebutkan setiap harinya di hadapan umum pada saat pengajian yang terdiri dari seluruh santri wati di Miftahul Huda 2. Hilman dulu, Hilman lagi, Hilman terus, kiranya itulah yang ada dalam fikiran para santri istri. hahaha.

Kelasan kami Aishiteru yang jumlahnya hanya 8 orang itu merupakan kelasan yang sudah masuk dalam daftar merah satuan keamanan Huda 2, karena 5 dari 8 anggota kelas positif dinyatakan sebagai teroris yang membahayakan kehadirannya.

Para Pencari Poin.

rossszabo.com
rossszabo.com

Rasa- rasanya kehidupan di pondok saya tidak pernah terlepas dari istilah yang satu ini, di Pesantren Sintesa yang sekarang sedang saya diami pun terdapat istilah tersebut. Namun yang menjadi beda adalah poin yang ada di Sintesa ini lebih mempunyai pengertian sebuah hukuman, dimana setiap santri yang ada disini diberikan nyawa sebanyak 50 poin apabila melakukan sebuah pelanggaran maka poinnya akan dikurangi.

Berbeda dengan yang ada di Sintesa, di Pondok pesantren Miftahul Huda 2 juga terdapat istilah poin yang sangat populer dan banyak di inginkan oleh para santri. Hal itu dikarenakan poin yang ada di Pondok ini mempunyai pengertian yang cenderung ke arah sebuah rezeki yang tak diduga- duga.

Biasanya istilah poin itu keluar secara spontan dari mulut seorang Guru atau Kyai  yang menjadikan nama kita sebagai contoh dalam kajian ilmu yang sedang diterangkan, tentunya hal demikian akan menjadi poin apabila itu tadi dipengajiannya terdapat santriwati.

Baca Juga   Nostalgia Reuni Alumni Miftahul Huda 2 Ke 29

Saya beserta seorang sahabat yang bernama Edih ruhdiat atau dalam akun fb nya bernama Edih Aishitru merupakan orang- orang yang sangat berperan aktiv untuk mendapatkan poin setiap harinya.

Bukan apa- apa, selain efeknya bisa meningkatkan popularitas dalam bersosialisasi di kehidupan pesantren juga dengan mempunyai banyak poin maka kita bisa lebih dekat lagi dengan para guru yang kami sangat hormati, bisa dibilang ini adalah jalan pintas untuk menuju jalan ketenaran.

Di Penjara.

Yahoo.com
Yahoo.com

Ada yang pernah di penjara? saya pernah, tapi hanya seminggu saja tidak lebih. Kenapa bisa masuk penjara?penyebabnya adalah karena kami lari dari pondok untuk menuju ke Ibu kota.

Ceritanya begini, pada saat itu di Pondok sedang dalam masa- masa liburan. Liburan setelah beberapa minggu diadakan ujian semester.

Sudah ada ketetapan dari pihak pesantren bahwasanya liburan kali ini, setiap kelas bebas untuk menentukan tempat liburannya masing- masing tentu dengan di damping seorang Ustad.

Setelah lama cari mencari tempat liburan mana yang cocok, saya mempunyai sebuah ide untuk pergi ke Ibu Kota untuk menghadiri Maulidannya Habieb Rizieq dengan menaiki Kereta Api.

Dan ternyata Pak Ketua Edih Ruhdiat yang nama akun facebooknya bernama Edih Aishiteru menyetujui akan hal tersebut, anak- anak pun meng aminkan saja agar perjalanan ini bisa sukses sampai tujuan.

Salahnya disini, setelah semua sepakat untuk pergi ke Jakarta dengan menaiki Kereta api tutututuuut, segeralah kami menentukan waktu untuk hari keberangkatannnya, dan ternyata setelah dirumuskan dengan berbagai macam pertimbangan yang ada bahwa waktu yang paling tepat adalah setelah salat subuh besok hari.

Tentu itu adalah sebuah kesalahan besar menurut kebanyakan orang karena kepergian kami sehari sebelum acara libur akhir tahunnya dimulai. Kami pergi tanpa permisi meninggalkan Pondok beserta seorang guru yang telah di amanati untuk menjadi pendamping liburan kelasan kami sebut saja namanya pa ing atau dalam akun fb nya bernama Ing.

Meskipun kami menyadari itu adalah sebuah kesalahan tapi itu tidak menjadikan langkah kami terhenti, kami terus melaju menuju Kota Ciamis untuk memesan tiket Kereta Api yang sangat ingin segera dinaiki.

Singkat cerita kami memesan tiket kereta api untuk 6 orang dengan tujuan Ciamis Tanah Abang, namun sungguh naas langkah kami harus terhenti terlebih dahulu karena tiket yang kita pesan keberangkatannya untuk hari besok, dengan itu kami 6 orang memutuskan untuk berpencar terlebih dahulu, dan berencana untuk bertemu kembali di keesokan harinya.

Esok hari pun tiba, kalau tidak salah hari Jum’at, saya datang ke stasiun ciamis dengan ditemani 30 lebih leupeut (lontong sayur) sebagai perbekalan dari mama untuk menemani perjalanan saya bersama 5 orang lainnya.

Waktu terus berlalu, hingga kereta yang akan memberangkatkan kami pun tiba, namun sampai saat itu tidak ada satupun dari teman saya yang tiba.

youtube.com
youtube.com

Dengan berat hati saya pergi sendirian tapi bersama 30 lepeut berharap batang hidung ke 5 teman saya dapat terlihat namun hingga kereta ini melangkahkan kaki pertamanya mereka tak kunjung memunculkan diri.

Bagaimana nasib ke 30 lepeut ini ? gumamku dalam hati, apa yang terjadi ? kenapa ke 5 temanku tak menyusulku disini? sudahlah, ini memang jalan yang terbaik, dengan sangat terpaksa saya pergi sendiri menaiki kereta api yang dari dulu sangat inginku naiki.

Dan ternyata, setelah mendengar cerita dari salah seorang teman yang memberikanku pesan lewat media fb, mereka ber 5 kembali kepondok dengan situasi pondok yang sangat mencekam pada saat itu, ada apa? ada apa? ternyata di pondok sedang terjadi prahara, setiap sudut pondok tersulut api kemarahan karena liburan mereka gagal karena ulah saya.

Akhirnya ke 5 orang teman saya dijebloskan kedalam penjara, selama seminggu lamanya, lalu sehari sebelum mereka dikeluarkan saya datang dari Ibu kota, berharap api- api kemarahan sudah padam.

Namun tidak demikian api itu kembali membara setelah tersulut oleh kehadiran saya, singkat cerita saya juga di masukan ke dalam jeruji penjara.

bukan ber 5 lagi seperti yang teman- teman saya rasakan, tapi hanya seorang diri tanpa seorang pun yang menemani, yang patut disyukuri adalah saya mempunyai ke 5 teman itu, mereka tidak sampai hati meninggalkan saya dalam kesendirian.

Baca Juga   Pesantrenku [ Huda II ] Harus Keren, Untuk Menutupi Akunya yang Tidak.

tidak seperti saya yang meninggalkan mereka berlima untuk berangkat ke Ibu kota sendirian, itu mungkin salah satu keburukan saya sebagai seorang teman.

Ini jauh lebih baik daripada harus itu.

www.iwisataindonesia.com
www.iwisataindonesia.com

 

Ini salah satunya, prestasi ini bisa dikatakan sebuah prestasi yang paling membanggakan dimana kita sudah bisa menutupi sebuah kejahatan yang besar dengan kejahatan yang kecil.

Mekipun kejahatan kecil itu tak menjadikan kita lepas dari hukumun tapi kita cukup senang dimana kejahatan besar itu adalah pergi ke pantai pangandaran selama sehari semalam.

Malamnya itu kami berangkat dari pondok, dengan hanya membawa kolor buat berenang di pantai, uang seadanya sisa sisa dari uang saku bulanan, serta 3 batang rokok saja untuk 5 orang, ketika itu kita dalam keadaan nekat tanpa memakai sendal pun hantam saja.

Pangandaran kami datang,,,!!!  seru salah satu teman saya, dan benar saja dengan hanya mengandalkan kenekatan kami bisa sampai di Pangandaran pada subuh harinya.

Dengan kaki yang tanpa alas kaki, memakai sarung dan peci ala santri kami sampai di Pantai pangandaran, perjalanan untuk sampainya pun sangatlah unik bin aneh, karena untuk sampai kesana kita ber lima harus menghemat uang yang dipunya.

Salah satu caranya adalah dengan menaiki mobil truk pengangkut kayu yang sejalur dengan arah tujuan yang kami ingin tuju.

www.initempatwisata.com

Setelah seharian merasakan menjadi seorang bule dengan berjemur dan keliling- keliling pantai kami pun pulang kembali setelah salat jum’at selesai, tapi kami tidak mengikuti salat jum’at karena pada waktu itu hanya baju, kolor serta sarung yang masih dalam keadaan basah.

Karena sudah merasa puas dan uangpun sudah terkuras, kami langsung pulang namun disaat akan pulang kami tidak menyadari bahwa sudah tidak tersisa lagi uang di dalam saku, aaah bingung pada waktu itu, apakah harus menggunakan ajian nebeng mobil truk orang lagi.

Tapi ternyata Edih Ruhdiat dengan akun facebooknya yang bernama Edih Aishiteru kembali lagi datang dengan keajaibannya, dia datang membawa kabar gembira untuk kita semua kulit manggis kini ada extraknya.

Dengan keajaiban dari seorang Pak Ketua Kelas kami berhasil kembali ke Pondok Pesantren tercinta Miftahul Huda 2 bayasari tentunya dengan keadaan tubuh yang lengket semua.

Tapi sungguh malang ketika sudah melangkahkan kaki pertama di gerbang utama pondok, langsung terdengar suara alarm yang memberitahukan kedatangan kami, dengan seketika penjaga gerbang pada waktu itu yang bernama Pak Obing yang akun facebooknya masih belum diketahui.

Kamu habis darimana? penjaga itu bertanya, habis dari Rajadesa pak, sambut Pak ketua kelas Edih ruhdiat yang nama facebooknya Edih Aishitetu.

Yang benar? ngapain kamu dari sana?  habis mencari dompetnya Edih Aishiteru yang hilang. izin tidak? kembali petugas keamanan itu bertanya, tidak timpal kami.

Baiklah kalian harus menerima hukuman, kalian mau dihukum apa? pilih bayar uang sebesar 10.000 atau di rendam di kolam santriwati?

repyssa.blogspot.com

Tanpa banyak berbasa- basi, kami langsung membalas nya dengan suara yang lantang tanpa keraguan sedikitpun,”di rendam di kolam santriwati”

Seketika kami berlima digiring ke area komplek perempuan disertai penjagaan ketat dari satuan khusus keamanan Miftahul Huda 2 bayasari yang terkenal dengan kebengisannya dalam meng eksekusi santri.

Meskipun dalam keadaan terkena hukuman berupa berenang di kolam santri sembari membersihkan berbagai macam limbah yang ada di dalamnya kami tetap senang bukan kepalang, banyak poin yang bisa didapatkan, kami semakin terkenal dengan prestasi ini.

Bersambung di episode selanjutnya.

Leave a Comment